Senin, 05 Desember 2016

puisi



MATI
Semua hilang pergi melayang
Terdiam Sunyi di tumpukan jerami
Hanya ada nada suram yang mencekam
Seperti rayap melumat lahap
Sebuah janji yang keji
Adalah bukti tak berarti
Bagaikan buku penuh kutu
membisu dengan lemah lesu
Luka dalam duka
Jasa dalam asa
Lelah menyinpan salah
Tak peduli....
Tak berisi....
Semua telah terjadi....
harus dihadapi....


puisi Ibu



IBU                                                                                                              
IBU.........
Sembilan bulan aku terkandung
Sembilan bulan aku menjadi bebanmu
Sembilan bulan menantikan kelahiranku
Akhirnya aku lahir kedunia
IBU...........
Engkau bagaikan perisaiku
Yang selalu melindungiku
 Engkau bagaikan payung hidupku
 Yang melindungiku dari panas dan hujan
 IBU..........
 Sekarang aku durhaka
 Sekarang aku menyesal
 Tapi engkau selalu memaafkanku
 Terima kasih ibuku tercinta

By: Marianus Rago Kristeno


puisi bagus



DALAM TIDURKU
Dalam lelap dalam gelap
Dalam tidur tak luntur
Dunia tak lagi bumi
Hidup yang fana belalu
Saat sepasang mata
Saat sebuah rasa
Saat satu pikiran
Dan semua sirna
Aku meruang memenuhi terang
Meski ia tak ada
Meski aku lenyap jadi ada
Lelap tetap menyergap
Dan gelap adalah cahayanya
Yang tiada, pudar tanpa getar
Aku terlelap dalam tidur
Berpindah ke alam mimpi indah

puisi tentang kalimantan



BORNEO
Hewan-hewan nan eksotik berkeliaran
Burung Tingang terbang melayang
Bunga-bunga nan indah bertebaran
Pohon-pohon menjulang tinggi dan rindang
Itulah hutan Borneo sang jantung dunia
 Bermacam tari-tarian nan menghibur
 Bermacam bangunan nan kokoh kuat
 Pemandangan alam nan indah dipandang
 Itulah tanah Borneo
 Orang-orang ramah menyapa
 Gadis-gadisnya berparas cantik
 Para prianya gagah dan kuat
 Semuanya rukun dan damai
 Itulah orang Dayak di Borneo tercinta

Sabtu, 03 Desember 2016

Majas

Majas atau biasa disebut Gaya Bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tulisan.
Macam Macam Majas
1). Majas Perbandingan
Majas perbandingan terdiri atas beberapa majas seperti berikut.

a. Majas Perumpamaan atau Simile
Majas Perumpamaan adalah majas yang membandingkan dua aspek yang berlainan, tetapi dianggap sama. Perbandingan tersebut ditandai dengan penggunaan kata-kata pembanding, misalnya: seperti, sebagai, bagai, ibarat, umpama, bak, dan laksana.

Contoh:
1) Ibarat mendapat durian runtuh, Hana sangat senang mendapat hadiah sepeda motor baru.
2) Wajahnya kuyu sebagai tentara kalah perang.


b. Majas Metafora
Majas Metafora adalah majas yang membandingkan dua aspek secara langsung, tanpa menggunakan kata-kata pembanding.

Contoh:
1) Para pejuang gugur sebagai bunga bangsa.
2) Sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, Pak Bayu memang pantas mendapat penghargaan.


c. Personifikasi atau Penginsanan
Majas Personifikasi adalan majas yang menggambarkan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat seperti manusia.

Contoh:
1) Matahari tersenyum cerah menyambut pagi.
2) Dengarlah, jeritan angin sungguh menyayat hati.


d. Antitesis
Majas Antitesis adalah majas yang membandingkan kata-kata berlawanan arti.

Contoh:
1) Maju mundurnya perusahaan ini tergantung pada kepemimpinan para manajer dan direktur.
2) Lega hatinya karena anaknya lulus SMA, tetapi sesak hatinya manakala memikirkan biaya anaknya masuk perguruan tinggi.


2. Majas Pertentangan
Majas Pertentangan terdiri atas beberapa majas sebagai berikut.

a. Majas Hiperbola
Majas Hiperbola adalah majas yang mengandung pernyataan berlebih-lebihan.

Contoh:
1) Tulisan Dian yang dimuat di majalah itu sangat sempurna, tanpa ada kekurangan dan kesalahan satu pun.
2) Jamal memang anak yang amat sangat pandai dan pintar.


b. Litotes
Majas Litotes adalah majas yang menyatakan sesuatu lebih rendah daripada yang sebenarnya.

Contoh:
1) Silakan mampir ke gubuk kami, Bu.
2) Kalau Anda tidak keberatan, mari kita bersama-sama naik gerobak kami.


c. Ironi
Majas Ironi adalah majas yang menyatakan makna bertentangan dengan maksud untuk mengolok-olok. Majas Ironi ini menyindir dengan halus.

Contoh:
1) Ini baru pukul delapan, mengapa kamu sudah bangun?
2) Pejabat yang bijaksana itu telah menggunakan uang negara untuk kepentingan sendiri.


d. Paradoks
Majas Paradoks adalah majas yang mengandung pertentangan nyata dengan fakta yang ada.

Contoh:
1) Dimas merasa dekat dengan kakaknya walaupun mereka tinggal berjauhan.
2) Kami merasa terjajah di tengah-tengah masyarakat yang sudah membaca.


3. Majas Pertautan
Majas Pertautan terdiri atas beberapa majas sebagai berikut.

a. Metonimia
Majas Metonimia adalah majas yang menggunakan nama diri yang ditautkan dengan orang atau barang.

Contoh:
1) Tolong ambilkan aqua di lemari es!
2) Kami tamasya ke pantai mengendarai kijang.


b.Eufemisme
Majas Eufemisme adalah majas yang berupa ungkapan lebih halus untuk mengganti ungkapan yang lebih kasar.

Contoh:
1) Mereka yang kekurangan makanan akan segera diberi bantuan,
2) Siswa yang kurang kemampuannya mendapat perhatian khusus.


c. Paralelisme
Majas Paralelisme adalah majas yang berusaha mencapai kesejahteraan dalam pemakaian kata-kata atau frasa yang menduduki fungsi sama dalam bentuk gramatikal sama.

Contoh:
1) Belajarlah membaca dan menulis agar kamu lancar dalam berbahasa.
2) Sawah ladang petani luluh lantak diterjang banjir bandang.


4. Majas Perulangan
Majas Perulangan terdiri atas beberapa majas seperti berikut.

a. Aliterasi
Majas Aliterasi adalah majas yang memanfaatkan kata-kata yang memiliki persamaan bunyi pada awal kata.

Contoh:
1) Biar bibir biduan bijak.
2) Mengalir, menimbun, mendesak.


b. Asonansi
Majas Asonansi adalah majas perulangan yang berwujud perulangan vokal sama. Asonasinya biasanya dipakai dalam puisi maupun pantun.

Contoh:
1)
Kura-kura dalam perahu,
sudah gaharu cendana pula.
Pura-pura tidak tahu,
Sudah tahu bertanya pula.
2)
Dahulu parang sekarang besi,
Dahulu sayang sekarang benci.


c. Repetisi
Majas Repetisi adalah majas yang mengandung kata atau kelompok kata sama.

Contoh:
Rajinlah belajar untuk mencapai prestasi.
Rajinlah belajar kelak kan jadi manusia berguna.

tentang Hiererki Gereja Katolik

HIERARKI DALAM GEREJA KATOLIK

I.    Latar Belakang
    Kata “Hierarki” berasal dari bahasa Yunani hierarchy yang berarti “asal usul suci atau tata susunan”. Menurut ajaran resmi Gereja Katolik, susunan, struktur hierarki sekaligus merupakan hakikat kehidupannya juga. Kitab Suci menjelaskan bahwa perutusan ilahi, yang dipercayakan Kristus kepada para Rasul, akan berlangsung sampai akhir zaman (lih. Mat 28:20). Sebab Injil, yang harus mereka wartakan, bagi
Gereja merupakan azas seluruh kehidupan untuk selamanya. Maka dari itu dalam himpunan yang tersusun secara hierarkis yaitu para Rasul telah berusaha mengangkat para pengganti mereka. Maka Konsili mengajarkan “atas penetapan ilahi para Uskup menggantikan para Rasul sebagai gembala Gereja”. Kepada para Rasul berpesan, agar menjaga seluruh kawanan, tempat Roh Kudus mengangkat mereka untuk
menggembalakan jemaat Allah (lih. Kis 20:28).(LG 20). Pengganti meraka yakni, para Uskup, dikehendaki-Nya menjadi gembala dalam Gereja-Nya hingga akhir jaman (LG 18). Maksud dari “penetapan ilahi para Uskup menggantikan para Rasul sebagai gembala Gereja” ialah bahwa dari hidup dan kegiatan Yesus timbullah kelompok orang yang kemudian berkembang menjadi Gereja, seperti yang dikenal sekarang.
Struktur Hierarkis Gereja yang sekarang terdiri dari dewan para Uskup dengan Paus sebagai kepalanya, dan para Imam serta Diakon sebagai pembantu Uskup. Para Uskup pengganti para Rasul yang dipimpin oleh Paus pengganti Petrus bertugas melayani, menggembalakan jemaat (bdk. Yoh 21: 15-19) bersama para pembantu
mereka, yakni para Imam dan Diakon. Sebagai wakil Kristus, mereka memimpin kawanan yang mereka gembalakan (pimpin), sebagai guru dalam ajaran, Imam dalam ibadat suci, dan pelayan dalam bimbingan (bdk. Lumen Gentium, Art. 20). Dasar kepemimpinan (hierarki) dalam Gereja. Gereja adalah persekutuan yang semua anggotanya sungguh-sungguh sederajat martabatnya, sederajat pula kegiatan umum dalam membangun Tubuh Kristus (LG 31). Ada fungsi khusus dalam Gereja yang diemban oleh hierarki, ada corak hidup khusus yang dijalani Biarawan/Biarawati, ada fungsi dan corak hidup keduniaan yang menjadi medan khas para Awam. Tetapi yang pokok adalah iman yang sama akan Allah dalam Kristus oleh Roh Kudus. Yang umum lebih penting daripada yang khusus.

II.    Hierarki dalam Gereja Katolik
    Kata hierarki berasal dari bahasa Yunani “hierarchy” yang berarti jabatan (hieros)suci (archos). Itu berarti bahwa yang termasuk dalam hierarki adalah mereka yang mempunyai jabatan karena mendapat penyucian melalui tahbisan. Maka mereka sering disebut sebagai kuasa tahbisan. Dan orang yang termasuk hieraki disebut sebagai para tertahbis. Namun, pada umumnya hierarki diartikan sebagai tata susunan. Hieraki
sebagai pejabat umat beriman kristiani dipanggil untuk menghadirkan Kristus yang tidak kelihatan sebagai tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dalam tingkatan hieraki tertahbis (hierarchia ordinis), Gereja terdiri dari Uskup, Imam, dan Diakon (KHK 330-572). Menurut tata susunan yurisdiksi (hierarchia yurisdictionis), yurisdiksi ada pada Paus dan para Uskup yang disebut kolegialitas. Kekhasan hierarki terletak pada hubungan khusus mereka dengan Kristus sebagai gembala umat.

III.    Sejarah hierarki
    Struktur hierarki bukanlah suatu yang ditambahkan atau dikembangkan dalam sejarah Gereja. Menurut ajaran Konsili Vatikan II, struktur itu dikehendaki Tuhan dan akhirnya berasal dari Kristus sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam sejarah hierarki di bawah ini:


A.    Zaman Para Rasul
    Awal perkembangan hierarki adalah kelompok kedua belas Rasul. Kelompok inilah yang pertama-tama disebut Rasul. Rasul atau “Apostolos” adalah utusan. Akan tetapi setelah kebangkitan Kristus, sebutan Rasul tidak hanya untuk kelompok kedua belas, melainkan juga utusan-utusan selain kelompok kedua belas itu. Bahkan akhirnya, semua “utusan jemaat” (2Kor8:22) dan semua “utusan Kristus” (2Kor 5:20) disebut
Rasul. Lama kelamaan, kelompok Rasul lebih luas dari pada kelompok kedua belas Rasul. Sesuai dengan namanya, Rasul diutus untuk mewartakan iman dan memberi kesaksian tentang kebangkitan Kristus.

B.    Zaman sesudah Para Rasul
    Setelah kedua belas Rasul tidak ada, muncul aneka sebutan, seperti “penatua-penatua” (Kis 15:2), dan “Rasul-Rasul”, “Nabi-Nabi”, Pemberita-Pemberita Injil”, Gembala-Gembala”, “Pengajar” (Ef 4:11), “Episkopos” (Kis 20:28), dan “Diakonos” (1Tim 4:14). Dari sebutan itu ada banyak hal yang tidak jelas arti dan maksudnya. Namun pada akhir perkembangannya, ada struktur dari Gereja St. Ignatius dari Antiokhia
yang mengenal sebutan “Penilik” (Episkopos), “Penatua” (Prebyteros), dan “Pelayan”(Diakonos). Struktur inilah yang selanjutnya menjadi struktur hierarki Gereja yang menjadi Uskup, Imam, dan Diakon. Di sini yang penting, bukanlah kepemimpinan Gereja yang terbagi atas aneka fungsi dan peran, melainkan bahwa tugas pewartaan para Rasul lama-kelamaan menjadi tugas kepemimpinan jemaat.Dasar kepemimpinan (hierarki) dalam Gereja Berdasarkan sejarah di atas, maka kepemimpinan dalam Gereja diserahkan kepada hierarki. Konsili mengajarkan bahwa “atas penetapan Ilahi, para Uskup menggantikan para Rasul sebagai penggembala Gereja” (lih LG 20). “ Konsili suci ini mengajarkan dan mengatakan bahwa Yesus Kristus, Gembala kekal mendirikan Gereja kudus dengan mengutus para Rasul seperti Dia diutus oleh Bapa (lih Yoh 20:21). Para pengganti mereka, yakni para Uskup, dikehendaki-Nya menjadi gembala dalam gereja-Nya sampai akhir zaman (lih. LG 18). Pernyataan di atas dimaksudkan bahwa dari hidup dan kegiatan Yesus timbullah kelompok orang yang kemudian berkembang menjadi Gereja, seperti yang dikenal sekarang. Proses perkembangan pokok itu terjadi dalam umat perdanan (Gereja Perdana), yakni Gereja yang mengarang Kitab Suci Perjanjian Baru. Jadi dalam kurun waktu antara kebangkitan Yesus dan awal abad kedua secara prinsip terbentuklah hierarki gereja yang dikenal sekarang. Wujud Gereja perdana beserta struktur kepemimpinannya menjadi patokan bagi perkembangan Gereja selanjutnya. Struktur kepemimpinan (hierarki) dalam Gereja Secara struktural kepemimpinan dalam Gereja sekarang dapat diurutkan sebagai berikut:

1.    Dewan Para Uskup dengan Paus sebagai Kepalanya
    Ketika Kristus mengangkat kedua belas Rasul, Ia membentuk mereka menjadi semacam dewan atau badan tetap. Sebagai ketua dewan, Yesus mengangkat Petrus yang dipilih-Nya dari antara para Rasul itu. Seperti santo Petrus dan para Rasul lainnya, atas penetapan Kristus merupakan satu dewan para Rasul. Begitu pula Paus (penganti Petrus) bersama Uskup (pengganti Rasul) merupakan satu himpunan yang
serupa.Pada akhir masa Gereja perdana, sudah diterima cukup umum bahwa para Uskup adalah pengganti para Rasul. Tetapi hal itu bukan berarti bahwa hanya ada dua belas Uskup (karena ada dua belas Rasul). Bukan Rasul satu persatu diganti orang lain, tetapi kalangan para Rasul sebagai pemimpin Gereja diganti oleh para Uskup. Tegasnya Dewan para Uskup adalah pengganti para Rasul (LG 20). Yang menjadi
pimpinan Gereja adalah Dewan para Uskup. Seseorang menjadi Uskup karena diterima ke dalam dewan. “Seseorang menjadi anggota Dewan Para Uskup dengan menerima tahbisan sakramental dan berdasarkan
persekutuan hierarkis dengan kepala maupun para anggota Dewan” (LG 22). Sebagai lambang kolegial ini, tahbisan Uskup selalu dilakukan paling sedikit tiga Uskup, sebab tahbisan Uskup berarti bahwa seorang anggota baru diterima ke dalam Dewan Uskup” (LG 11). Uskup itu pertama-tama adalah pemimpin Gereja setempat. Namun dalam persekutuan gereja-gereja setempat hiduplah Gereja Universal. Dalam persekutuan
dengan Uskup-Uskup lain itu, para Uskup setempat menjadi pemimpin Gereja Universal. Maka Uskup merupakan pemimipin Gereja setempat sekaligus pemimpin Gereja Universal.
2.    Paus
    Konsili Vatikan II menegaskan “adapun dewan atau badan para Uskup hanyalah berwibawa, bila bersatu dengan Imam Agung di Roma pengganti Petrus sebagai kepala dan selama kekuasaan primatnya terhadap semua, baik para gembala maupun kaum beriman, tetap berlaku seutuhnya.” Sebab Imam Agung di Roma berdasarkan tugasnya, yakni sebagai wakil Kristus dan gembala Gereja semesta mempunyai kuasa penuh, tertinggi, dan universal terhadap Gereja, dan kuasa itu selalu dapat dijalankan dengan bebas (LG 22).
Penegasan itu didasarkan bahwa Kristus mengangkat Petrus sebagai ketua para Rasul. Yesus mengangkat Santo Petrus menjadi ketua para Rasul lainnya. Dalam diri Petrus, Yesus menetapkan adanya asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan (bdk. LG 18) Petrus diangkat menjadi pemimpin para Rasul. Paus yang adalah pengganti Petrus juga pemimpin para Uskup. Menurut kesaksian tradisi,
Petrus adalah Uskup Roma yang pertama. Karena itu, Roma dipandang sebagai pusat dan pedoman seluruh Gereja. Menurt keyakinan tradisi, Uskup Roma itu pengganti Petrus, bukan hanya sebagai Uskup lokal melainkan terutama dalam fungsinya sebagai ketua Dewan Pimpinan Gereja. Paus adalah Uskup Roma, dan sebagai Uskup Roma, ia adalah pengganti Petrus dengan tugas dan kuasa seperti Petrus. Tugas dan kuasa Petrus, menurut Perjanjian Baru, begitu istimewa (Mat 16:16-19; Yoh 21:15-19), Ia diakui sebagai pemimpin Gereja. “Para Rasul menghimpun Gereja semesta, yang oleh Tuhan didirikan dalam diri mereka dan di atas Rasul Petrus, ketua mereka, sedangkan Yesus Kristus sendiri sebagai batu sendinya” (LG 19). Fungsi dan kedudukan Petrus sebagai pemimpin Gereja diakui pula sebagai unsur prinsip hierarki, yang akhirnya berasal dari Kristus sendiri. Itulah tugas dan wewenang Paus, pengganti Petrus.

3.    Uskup
    `Pada dasarnya Paus adalah seorang Uskup. Seorang Uskup selalu berkarya dalam persekutuan dengan para Uskup lain dan mengakui Paus sebagai kepala. Karya seorang Uskup adalah “menjadi asas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam Gereja-Nya (LG 23). Tugas pokok Uskup di tempatnya sendiri adalah pemersatu. Tugas hierarki yang pertama dan utama adalah mempersatukan dan mempertemukan umat. Tugas ini dapat disebut tugas kepemimpinan dari para Uskup “dalam arti sesungguhnya disebut pembesar umat yang mereka bimbing” (LG 27) Tugas pemersatu ini selanjutnya dibagi menjadi tugas khusus menurut tiga bidang kehidupan gereja, yaitu pewartaan, perayaan, dan pelayanan, di mana dimungkinkan
komunikasi iman dalam Gereja. Dan dalam bidang-bidang itulah para Uskup dan Paus menjalankan tugas kepemimpinannya. Pewartaan Injil menjadi tugas terpenting (LG 25). Tugas penting selanjutnya adalah perayaan, “mempersembahkan ibadat agama Kristen kepada Allah yang Mahaagung dan mengaturnya menurut perintah Tuhan dan hukum Gereja” (LG 26). Selanjutnya adalah pelayanan, “membimbing Gereja-
gereja yang dipecayakan kepada mereka sebagai wakil dan utusan Kristus, dengan petunjuk-petunjuk, nasihat-nasihat, dan teladan hidup mereka, tetapi juga dengan kewibawaan dan kuasa suci” (LG 27). Dalam ketiga bidang kehidupan menggereja, Uskup bertindak sebagai pemersatu, yang mempertemukan orang dalam komunikasi iman.
4.    Pembantu Uskup: Imam dan Diakon
    Dalam mengemban tugas dan fungsinya, para Uskup memerlukan “pembantu” dan rekan “kerja”, mereka adalah Para Imam yang adalah Wakil Uskup. Di setiap jemaat setempat dalam arti tertentu, mereka “menghadirkan” Uskup. “Para Imam dipanggil melayani umat Allah sebagai pembantu arif bagi badan Uskup, sebagai penolong dan organ mereka “(LG 28). Tugas konkret para Imam sama seperti Uskup. Mereka ditahbiskan pertama-tama untuk mewartakan Injil (lih. PO 4) dan menggembalakan umat
(lih. PO 6).


5.    Diakon: pelayan, hierarki tingkat yang lebih rendah
    Ditumpangi tangan bukan untuk Imamat tetapi untuk pelayanan (LG 29). Mereka ini juga pembantu Uskup, tetapi tidak mewakili. Para Diakon adalah pembantu Uskup dengan tugas terbatas. Dengan kata lain Diakon adalah pembantu khusus Uskup, sedangkan Imam adalah pembantu umum Uskup.

6.    Kardinal:
    Kardinal bukan jabaran hierarkis dan tidak termasuk struktur hierarkis. Kardinal adalah penasehat dan membantu Paus dalam tugas reksa harian seluruh Gereja. Mereka membentuk suatu dewan Kardinal. Jumlah dewan yang berhak memilih Paus dibatasi 120 orang di bawah usia 80 tahun. Seorang Kardinal dipilih oleh Paus secara bebas.

IV.    Fungsi Khusus Hierarki
    Seluruh umat Allah mengambil bagian di dalam tugas Kristus sebagai nabi (mengajar), Imam (menguduskan), dan Raja (menggembalakan). Pada kenyataannya umat tidak seragam, maka Gereja mengenal pembagian tugas tiap komponen umat (hierarki, biarawan/biarawati, dan awam). Menjalankan tugas dengan cara yang berbeda. Berdasarkan keterangan yang telah diungkapkan di atas, fungsi khusus hierarki
adalah:
- Menjalankan tugas Gerejani, yakni tugas-tugas yang langsung dan eksplistis menyangkut kehidupan beriman Gereja, seperti: pelayanan sakramen-sakramen, mengajar, dan sebagainya.
- Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hierarki mempersatukan umat dalam iman dengan petunjuk, nasihat, dan teladan.

V.    Corak Kepemimpinan dalam Gereja
    Kepemimpinan dalam Gereja merupakan suatu panggilan khusus di mana campur tangan Tuhan merupakan unsur yang dominan. Kepemimpinan Gereja tidak diangkat oleh manusia berdasarkan bakat, kecakapan, atau prestasi tertentu. Kepemimpinan dalam Gereja tidak diperoleh oleh kekuatan manusia sendiri. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diperjuangkan oleh manusia, tetapi kepemimpinan dalam Gereja tidaklah demikian.
    Kepemimpinan dalam Gereja bersifat mengabdi dan melayani dalam arti semurni-murninya, walaupun ia sungguh mempunyai wewenang yang berasal dari Kristus sendiri.
    Kepemimpinan gerejani adalah kepemimpinan melayani, bukan untuk dilayani, sebagaimana yang itunjukkan oleh Yesus sendiri. Maka Paus disebut sebagai “Servus Servorum Dei”=hamba dari hamba-hamba Allah.
    Kepemimpinan hierarki berasal dari Tuhan, maka tidak dapat dihapuskan oleh manusia. Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diturunkan oleh manusia, karena ia memang diangkat dan diteguhkan oleh manusia.

doa pokok dalam bahasa Latin

Signum Crucis / Tanda Salib
In nómine Pátris et Fílii et
Spíritus Sáncti. Amen.
(Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin)

Gloria / Kemuliaan
Gloria Patri, et Fílio, et Spirítui Sáncto. Sícut érat in princípio
et nunc et sémper et in sáecula sæculórum. Amen.
(Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad)

Páter nóster / Bapa Kami
Páter nóster, qui es in cáelis, sanctificétur
nómen túum. Advéniat régnum túum. Fíat volúntas túa, sícut in cáelo et in térra.
Pánem nóstrum quotidiánum da nóbis hódie, et dimítte nóbis débita nóstra, sícut
et nos dimíttimus debitóribus nóstris. Et ne nos indúcas in tentatiónem: sed líbera nos a málo. Amen.
(Bapa Kami, yang ada di surga,
dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu,
Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga
Berilah kami rejeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.)
Ave Maria / Salam Maria
Áve María, grátia pléna, Dóminus técum benedícta tu in muliéribus, et benedíctus frúctus véntris túi, Iésus
Sáncta María, Máter Déi,
 óra pro nóbis
peccatóribus, nunc et in hóra mórtis nóstræ. Amen. (Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu.Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.Santa Maria Bunda Allah.Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin).


Salve Regina / Salam, ya Ratu
Sálve Regína, máter misericórdiæ:
víta, dulcédo, et spes nóstra, sálve. Ad te clamámus, éxsules fílii Hévæ. Ad te
suspirámus, geméntes et fléntes in hac lacrimárum válle. éja érgo, Advocáta
nóstra, íllos túos misericórdes óculos ad nos convérte. Et Jésum, benedíctum
frúctum véntris túi, nóbis post hoc exsílium osténde. O clémens, O pía, O
dúlcis Vírgo María.

Óra pro nóbis sáncta Déi Génitrix
ut dígni efficiámur promissiónibus Chrísti.
(Salam, ya Ratu, Bunda yang rahim.
Kehidupan, penghibur dan pengharapan kami, salam.
Kami orang buangan, anak Hawa, berseru kepadaMu.
KepadaMu kamu mohon dengan keluh kesah di lembah kedukaan ini.
Maka tunjukkanlah kepada kami, hai Pembicara kami, wajahMu yang manis.
Dan sesudah pembuangan ini, tunjukkanlah kepada kami, Yesus Buah TubuhMu yang terpuji.
Ya Maria, Perawan yang murah hati.
Penuh kasih sayang dan manis.

Doakanlah kami Santa Bunda Allah
supaya kami layak menikmati janji-janji Kristus)


Confiteor / Saya Mengaku
Confiteor Deo omnipotenti, beatae Mariae semper Virgini, beato Michaeli Archangelo, beato Joanni Baptistae, sanctis Apostolis Petro et Paulo, omnibus Sanctis, et vobis fratres, quia peccavi nimis cogitatione verbo, et opere:
mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa. Ideo precor beatam Mariam semper Virginem, beatum Michaelem Archangelum, beatum Joannem Baptistam, sanctos Apostolos Petrum et Paulum, omnes Sanctos, et vos fratres, orare pro me ad Dominum Deum nostrum. (Saya mengaku kepada Allah yang mahakuasa, kepada St. Maria tetap perawan, kepada malaikat agung St. Mikael, kepada St. Yohanes Pembabtis, kepada Rasul Petrus dan Paulus, kepada semua orang kudus dan kepada saudara sekalian, bahwa saya sangat berdosa dengan pikiran, perkataan dan perbuatan:) (saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa). (Oleh sebab itu saya mohon kepada St. Maria tetap Perawan, kepada malaikat-agung St. Mikael, kepada Rasul Petrus dan Paulus, kepada semua orang kudus, dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita)


Credo / Syahadat Panjang (Credo Nicean-Konstantinopel)
Credo in unum Deum, Patrem omnipotentem,
factorem caeli et terrae, visibilium omnium et invisibilium.
Et in unum Dominum Jesum Christum,
Filium Dei unigenitum. Et ex Patre natum ante omnia
saecula. Deum de Deo, lumen de lumine,
Deum verum de Deo vero. Genitum, non factum,
consubstantialem Patri: per quem omnia facta sunt.
Qui propter nos homines, et propter nostram salutem
descendit de caelis.
ET INCARNATUS EST DE SPIRITU SANCTO
EX MARIA VIRGINE: ET HOMO FACTUS EST.
Crucifixus etiam pro nobis; sub Pontio Pilato passus,
et sepultus est. Et resurrexit tertia die, secundum
Scripturas. Et ascendit in caelum: sedet ad desteram
Patris. Et iterum venturus est cum gloria judicare vivos et mortuos:
cujus regni non erit finis.
Et in Spiritum Sanctum, Dominum et vivificantem:
qui ex Patre Filioque procedit. Qui cum Patre, et Filio

simul adoratur et conglorificatur: qui locutus est per
Prophetas. Et unam, sanctam, catholicam et apostolicam
Ecclesiam. Confiteor unum baptisma in remissionem
peccatorum. Et exspecto resurrectionem mortuorum.
Et vitam ventura saeculi. Amen.
(Aku percaya akan satu Allah,
Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang kelihatan
dan tak kelihatan;
dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa;
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.
Ia turun dari surga untuk kita manusia
dan untuk keselamatan kita.
Ia dikandung dari Roh Kudus,
Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus;
Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan.
Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
Ia akan kembali dengan mulia,
mengadili orang yang hidup dan yang mati;
kerajaan-Nya takkan berakhir.
aku percaya akan Roh Kudus,
Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
yang serta Bapa dan Putra,
disembah dan dimuliakan;
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
aku percaya akan Gereja
yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
aku mengakui satu pembaptisan
akan penghapusan dosa.
aku menantikan kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat.
amin.)

Syahadat Para Rasul / Syahadat Singkat
Crédo in Déum, Pátrem omnipoténtem, Creatórem
cáeli et térrae. Et in Jésum Chrístum, Fílium éjus unícum, Dóminum nóstrum: qui concéptus est de Spíritu Sáncto, nátus ex María Vírgine , pássus sub Póntio Piláto, crucifíxus, mórtuus,
et sepúltus: descéndit ad ínferos: tértia díe resurréxit a mórtuis: ascéndit ad
cáelos: sédet ad déxteram Déi Pátris omnipoténtis: índe ventúrus est judicáre vívos et mórtuos.
Crédo in Spíritum Sánctum, sánctam Ecclésiam
cathólicam, Sanctórum communiónem, remissiónem peccatórum, cárnis resurrectiónem,
vítam aetérnam. Amen.

(Aku percaya akan Allah,
Bapa yang Mahakuasa,
pencipta langit dan Bumi
Dan akan Yesus Kristus,
PutraNya yang tunggal, Tuhan kita
Yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh perwan Maria.
Yang menderita sengsara
dalam pemerintahan Ponsius Pilatus,
disalibkan wafat dan dimakamkan,
Yang turun ketempat penantian,
pada hari ketiga bangkit
dari antara orang mati
Yang naik kesurga,
duduk disebelah kanan
Allah bapa yang Mahakuasa.
Dari situ ia kan datang
mengadili orang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja katolik yang Kudus,
persekutuan para kudus
Pengampunan Dosa,
Kebangkitan badan,
Kehidupan kekal.
Amin.)
Sanctus / Kudus
Sanctus, Sanctus, Sanctus, Dominus Deus Sabaoth.
Pleni sunt caeli et terra gloria tua. Hosanna in excelsis.
Benedictus qui venit in nomine Domini.
Hosanna in excelsis.
(Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah segala kuasa. Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu. Terpujilah Engkau di surga. Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga.)




Agnus Dei / Anak Domba Allah
Agnus Dei / Anak Domba Allah
Agnus Dei, qui tollis peccata mundi, misere nobis
Agnus Dei, qui tollis peccata mundi, misere nobis Agnus Dei, qui tollis peccata mundi, dona nobis pacem
(Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami.
 Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami.
Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, berilah kami damai).
Oratio Fatimae / Doa Fatima
Domine Iesu, dimitte nobis debita nostra, salva nos ab igne inferiori, perduc in
caelum omnes animas, praesertim eas, quae misericordiae tuae maxime indigent.
(Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami. Selamatkanlah kami dari api neraka, dan hantarlah jiwa-jiwa ke surga, terlebih jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu. Amin.)

Angelus / Doa Malaikat Tuhan
V. Angelus Domini nuntiavit Mariæ.
R. Et concepit de Spiritu Sancto.
Ave Maria, gratia plena, Dominus tecum. Benedicta tu in mulieribus, et benedictus fructus ventris tui, Iesus.
Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostræ. Amen.
V. Ecce Ancilla Domini.
R. Fiat mihi secundum Verbum tuum.
Ave Maria…
V. Et Verbum caro factum est.
R. Et habitavit in nobis.
Ave Maria…
V. Ora pro nobis, Sancta Dei Genitrix.
R. Ut digni efficiamur promissionibus Christi.
Oremus: Gratiam tuam quæsumus, Domine, mentibus nostris infunde; ut qui, angelo nuntiante, Christi Filii tui Incarnationem cognovimus, per passionem eius et crucem, ad resurrectionis gloriam perducamur.
Per eundem Christum Dominum nostrum. Amen.
Regina caeli / Ratu Surga

Regina caeli, laetare, alleluia:
Quia quem meruisti portare, alleluia,
Resurrexit sicut dixit, alleluia.
Ora pro nobis Deum, alleluia.
Gaude et laetare, Virgo Maria, alleluia,
Quia surrexit Dominus vere, alleluia.

Oremus: Deus, qui per resurrectionem Filii tui, Domini nostri Iesu Christi, mundum laetificare dignatus es: praesta, quaesumus; ut, per eius Genetricem Virginem Mariam, perpetuae capiamus gaudia vitae. Per eundem Christum Dominum nostrum. Amen.
(Ratu surga, bersukacitalah, alleluya.
Sebab Ia yang sudi kau kandung, alleluya.
Telah bangkit seperti dikatakan-Nya, alleluya.
Doakanlah kami pada Allah, alleluya.
Bersukacitalah dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya.
Sebab Tuhan sungguh telah bangkit, alleluya.

Marilah berdoa: Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kami mohon, perkenankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal bersama Bunda-Nya, Perawan Maria. Demi Kristus, pengantara kami. Amin.)